Abstrak
Perubahan iklim menimbulkan ancaman signifikan terhadap sistem pertanian dan
ketahanan pangan, khususnya di daerah yang sangat bergantung pada komoditas yang
sensitif terhadap iklim. Provinsi Jawa Timur, sebagai salah satu pusat produksi pangan utama
Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menilai risiko perubahan iklim dan respons petani
terhadap komoditas pangan utama di Jawa Timur dengan mengintegrasikan analisis spasial
dan perspektif sosioekonomi. Penelitian ini berfokus pada padi, jagung, kedelai, cabai,
bawang merah, dan tebu sebagai komoditas strategis. Pendekatan metode campuran
digunakan, menggabungkan analisis data panel kuantitatif, pemetaan risiko spasial, dan
survei sosial ekonomi tingkat pertanian. Data curah hujan dan produktivitas tanaman tingkat
distrik dari tahun 2015 hingga 2025 dianalisis untuk memperkirakan hubungan antara
variabilitas curah hujan dan hasil panen. Teknik Sistem Informasi Geografis (SIG)
diterapkan untuk menumpuk peta paparan iklim, variabilitas produksi, dan risiko bahaya
untuk mengidentifikasi titik-titik rawan kerentanan iklim secara spasial. Data primer
dikumpulkan melalui survei terstruktur dan wawancara dengan petani di pusat-pusat
produksi terpilih untuk hasil penelitian menunjukkan bahwa variabilitas curah hujan secara
signifikan memengaruhi produktivitas tanaman, dengan dampak yang beragam di berbagai
komoditas dan wilayah. Komoditas tadah hujan seperti jagung, kedelai, cabai, dan bawang
merah menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap anomali curah hujan, sementara
padi dan tebu yang diirigasi menunjukkan ketahanan yang relatif lebih besar tetapi tetap
rentan dalam kondisi ekstrem. Analisis spasial mengungkapkan titik-titik rawan risiko iklim
yang berbeda yang terkonsentrasi di daerah tadah hujan dan daerah marginal secara
agroekologis. Respons petani terhadap perubahan iklim bervariasi menurut karakteristik
sosial ekonomi, akses terhadap informasi iklim, dan dukungan kelembagaan. Praktik adaptif
seperti penyesuaian kalender tanam, pengelolaan air, dan pemilihan varietas lebih umum di
kalangan petani yang memiliki akses lebih baik ke layanan penyuluhan.