Abstrak
Dalam perkembangannya, kabupaten Lumajang mengalami penurunan kuantitas
Ruang Terbuka Hijau kota. Hal ini dilatar belakangi oleh beberapa aspek seperti halnya
yang terjadi di wilayah perkotaan lainnya. Aspek tersebut antara lain : perkembangan
penyediaan infra struktur, meningkatnya angka pertumbuhan penduduk, kemajuan IPTEK,
perluasan jaringan komunikasi dan transportasi, dan sebagainya. Hal ini dapat dilihat dari
banyaknya penggunaan lahan di perkotaan yang lebih mengutamakan pembangunan fisik
dan banyak menutup permukaan tanah dengan perkerasan serta menggusur sejumlah ruang
terbuka hijau yang ada.
Secara umum, permasalahan lingkungan yang terjadi di Kabupaten Pasuruan adalah
sama, yaitu semakin meningkatnya temperatur yang dirasakan akibat bertambahnya jumlah
penduduk, semakin banyak jumlah kendaraan bermotor yang masuk ke wilayah Kabupaten
Pasuruan, terjadinya konversi lahan hijau menjadi lahan terbangun, menurunnya
ketersediaan air bersih karena masih banyak industri – industri yang membuang limbahnya
secara langsung ke sungai tanpa mengolahnya terlebih dahulu.
Pada tahun 2017, jumlah kebutuhan oksigen sebesar 298895 kg/hari. Pada tahun
2022, sebesar 411181 kg/hari. Sedangkan pada tahun 2027, jumlah kebutuhan oksigen yang
diperlukan sebesar 626576 kg/hari. Disini terlihat bahwa meningkatnya kebutuhan oksigen
ini menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah penduduk ataupun jumlah kendaraan yang
ada di Kecamatan Lumajang.
Pada tahun 2017, jumlah kebutuhan oksigen sebesar 415372 kg/hari dengan luas
ruang terbuka hijau sebesar 8205 m2
. Jumlah kebutuhan oksigen pada tahun 2022 sebesar
883084 kg/hari dengan luas ruang terbuka hijau yang harus ada adalah 17444 m2
.
Sedangkan pada tahun 2027, jumlah kebutuhan oksigen adalah 720260 kg/hari dengan
luasan ruang terbuka hijau sebesar 33267 m2
.
Berdasarkan dari pengamatan lokasi penelitian tersebut, maka dapat dilihat bahwa
untuk perluasan lahan ruang terbuka hijau cukup sulit dilakukan karena lahan yang tersedia
sudah banyak dipergunakan untuk wilayah terbangun. Sehingga alternatif yang dapat
dilakukan adalah dengan memaksimalkan pemanfataan ruang terbuka hijau yang ada sesuai
dengan perutukkannya. Pemaksimalan pemanfaatan ruang terbuka hijau ini yaitu dengan
menata ulang kembali ruang terbuka hijau yang sudah ada dengan mengganti jenis vegetasi
yang telah ada atau yang kurang sesuai peruntukkanya dengan vegetasi yang memiliki
karakteristik dan fungsi yang tepat pada ruang terbuka hijau tersebut atau dengan
menambah jumlah vegetasi yang ada. Misalnya untuk wilayah yang padat transportasinya,
maka dapat menggunakan jenis tanaman yang tidak berbuah dan tidak berbunga. Sehingga
oksigen yang dihasilkan tidak dialokasikan untuk buah atau bunga. Jenis tanaman ini antara
lain yaitu pohon Sono, pohon Trembesi. Kedua vegetasi ini mampu menyerap CO2 dalam
jumlah yang sangat besar sehingga dapat menghasilkan oksigen yang besar pula. Disamping
itu, tanaman dengan struktur akar yang besar, akan mampu menyerap air dalam volume
yang cukup besar dan sangat cepat. Sehingga tanaman ini dapat berfungsi baik jika ditanam
ditempat yang sering terdapat genangan airnya.