Abstrak
Porang (Amorphophallus muelleri Blume) adalah golongan Araceae asli
Indonesia yang banyak tumbuh secara liar di hutan-hutan pulau Jawa, sehingga di
Jepang dikenal sebagai “Jawa Mukago Konyaku”. Porang (Amorphophallus
muelleri Blume) disebut juga sebagai Iles-iles merupakan umbi yang sangat
potensial untuk dikembangkan di Indonesia (Sumarwoto, 2005).
Sentra budidaya porang Indonesia adalah Propinsi Jawa Timur. Porang
dibudidayakan di hutan-hutan Perhutani khususnya di wilayah Klangon,
Sumberbendo, Padas (Kabupaten Madiun), Tritik dan Sambikerep (Kabupaten
Nganjuk). Tim Ristek Universitas Brawijaya bekerjasama dengan Pemerintah
Kabupaten Madiun (Dinas Kehutanan dan Perkebunan) telah mendorong
masyarakat Pengelola Sumber Daya Hutan (MPSDH) di wilayah Kabupaten
Madiun untuk membudidayakan umbi porang.
Sejak tahun 2006 mulai dikembangkan metode penepungan chip porang
hingga menjadi tepung porang. Penepungan porang menggunakan hammer mill
(2007), dan berkembang menggunakan stemp mill (2008). Metode ini mampu
menghasilkan ukuran tepung porang yang lebih kecil, namun demikian metode ini
memiliki kelemahan yaitu lamanya waktu yang digunakan untuk menghasilkan
tepung porang, sekitar 8-15 jam. Metode penepungan porang terus dikembangkan
dimana pada tahun 2012 ditemukan metode pengecilan ukuran yang
menggunakan ball mill yang mampu menghasilkan ukuran tepung ±320 μm atau
setara dengan 80 mesh dengan waktu yang relatif singkat yaitu 4-6 jam.
Selama proses penepungan, terjadi pelepasan kalsium oksalat yang
menyelimuti permukaan granula glukomanan, sehigga perlu dilakukan pemisahan
antara glukomanan (fraksi berat) yang merupakan target utama dalam produksi
tepung porang dengan kalsium oksalat (fraksi ringan) yang merupakan komponen
tidak diinginkan dalam tepung porang. Proses pemisahan dilakukan dengan
menggunakan cyclone separator yang mampu memisahkan suatu campuran
berdasarkan berat molekulnya.
Mesin ball mill mengalami beberapa kali modifikasi dalam rancangannya.
Pada tahun 2014, dengan sumberdana dari Badan Penelitian dan Pengembangan
Provinsi Jawa Timur dibawah bidang Sumberdaya Alam dan Teknologi dilakukan
perancangan mesin ball mill dengan modifikasi sirip dalam, yang diberi hembusan
selama penepungan dan dihubungkan langsung dengan cyclone separator. Dengan
adanya hembusan selama proses penepungan diharapkan fraksi ringan yang tidak
diinginkan (kalsium oksalat) dapat dihilangkan selama proses penepungan.
v
Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu delapan bulan dari Maret
hingga Oktober 2014 sebagai kerjasama antara Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat Universitas Brawijaya dengan Badan Penelitian dan
Pengembangan Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan
penelitian, yang pertama adalah tahap perancangan dan pembuatan mesin ball mill
serta cyclone separator. Tahap dua dilakukan percobaan penepungan untuk
mengetahui waktu penggilingan yang paling tepat (berdasar pada hasil penelitian
sebelumnya) dengan lama waktu penggilingan 4, 5, dan 6 jam untuk mengetahui
apakah mesih hasil rancangan pada tahap satu mampu diaplikasikan dalam proses
penepungan porang pada tingkat industri kecil. Tahap terakhir dilakukan
diseminasi atau pemaparan hasil penelitian, baik berupa demo mesin ball mill dan
penyampaian hasil analisa tepung yang dihasilkan kepada masyarakat/ petani
terutama di daerah Nganjuk dan Madiun yang merupakan sentra produksi porang
di Jawa Timur.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah penepungan
dengan ball mill selama 6 jam dan dilanjutkan dengan fraksinasi cyclone
menghasilkan tepung porang dengan kadar glukomanan mencapai 71,76 %, kadar
kalsium oksalat 12,68%, viskositas 13200 cPs, dan derajat putih 25,57.
Teknologi penepungan dengan ball mill dan dilanjutkan dengan fraksinasi
menggunakan cyclone separator ini telah didiseminasikan kepada para petani di
wilayah Kabupaten Nganjuk dan Madiun. Diseminasi dilaksanakan di Balai Desa
Sambikerep, Kabupaten Nganjuk pada 30 September 2014 dengan dihadiri
perwakilan dari Universitas Brawijaya dan perwakilan dari Balai Penelitian dan
Pengembangan Provinsi Jawa Timur, serta para petani dari LMDH Sambikerep,
Nganjuk dan LMDH Sumberbendo, Madiun.
Perhitungan kelayakan finansial atas sebuah mesin ball mill dengan
kapasitas 100 Kg/ batch dengan asumsi umur mesin 5 tahun. Mesin ini akan
mampu menghasilkan tepung porang kasar dan tepung porang murni. Dari hasil
perhitungan diperoleh HPP 1 kilogram tepung porang kasar sebesar Rp 58.016,-.
Dengan bungan Bank Indonesia 12% per tahun makan dibutuhkan 10 bulan untuk
mencapai payback periode dengan harga jual tepung porang Rp 81.223,- per
kilogramnya. Dengan IRR 34,82% menunjukkan bahwa proyek ini layak untuk
dilaksanakan. Sedangkan pada produksi tepung porang murni akan menghasilkan
keuntungan hampir dua kali lipat, dimana harga jual 1 kilogram tepung porang
murni mencapai Rp 201.271,- dengan HPP sebesar Rp 143.767,-. sehingga hanya
dibutuhkan 5 bulan untuk mencapai payback periode dengan IRR 36,98%.
Saat ini proses penepungan yang paling efisien untuk menghasilkan
tepung porang dengan kandungan glukomannan yang tinggi dan rendah kadar
oksalat masih terus dilakukan melalui modifikasi mesin maupun modifikasi
proses. Selain itu, beberapa kombinasi pemurnian tepung porang secara fisik
melalui cyclone separator dan secara kimia dengan metode pencucian etanol
masih terus dilakukan untuk menghasilkan teknologi tepat guna yang mampu
diterapkan dalam industri kecil untuk menghasilkan tepung porang tinggi kadar
glukomanan.