Abstrak
Naiknya harga saprodi bawang merah dari tahun ke tahun berdampak
pada kenaikan indek harga yang harus dibayar petani, padahal indek harga yang
diperoleh petani tidak pasti naik. Disparitas harga antar musim penghujan dan
musim kemarau sangat besar sekali hingga bisa mencapai 100 persen lebih
karena resiko kegagalan yang tinggi, mulai dari harga Rp 7.000 hingga Rp 70.000.
Akibatnya, Nilai Tukar Petani per satuan waktu menjadi turun. Sehingga penelitian
tentang peningkapan nilai tukar petani perlu dilakukan. Bahan substitusi
mendapatkan bahan alternative berupa bakteri dan kompos yang dapat digunakan
sebagai substitusi pupuk dan pestisida guna meningkatkan produksi bawang
merah serta menguji nilai usaha tani bawang merah, dan selanjutnya menganalisa
nilai tukar petani jika sebelum proses budidaya bawang merah dibanding setelah
budidaya jika terdapat asumsi penggunakan bahan alternative efektif sebagai
input produksi.
Lokasi Penelitian Ngetos- Nganjuk memiliki ketinggian diatas 900 mdpl
dengan suhu minimum 16 – 220C dan suhu maksimum 24 – 280C dengan
kelembaban udara 60 – 95% dan curah hujan rata-rata 775 – 3000 mm per tahun.
Kegiatan kajian dlakukan di Nganjuk mulai bulan Oktober sampai
Desember 2014. Materi genetik yang digunakan terdiir dari 4 varietas Bawang
Merah yaitu 1.Sumenep, 2, Mentes, 3.Bauji. 4. Phillip, PGPR lokal. Dilakukan
dengan cara demo plot dengan perlakuan 4 varitas bawang merah dan kombinasi
: 1. 100% PGPR, 2. 100% Pupuk Konvensional, 3. 75% PGPR+25% Pupuk
konventional; 4. 50% PGPR+50% Pupuk konventional; 5. 25% PGPR+75% Pupuk
conventional, hasil dari penelitian tersebut dilakukan pengamatan yang mencakup
parameter yang berhubungan dengan produksi sehingga dapat di hitung secara
rinci produksi antar perlakuan yang digunakan sehingga dapat dilakukan
peritungan tentang analisa usaha tani yang dilakukan. Nilai usaha tani yang
dihitung mencakup kelayakan usaha tani, NTP (Nilai Tukar Petani), BEP (Break
event point), IRR (Internal Rate of return), dan NPV (Net Present Value).
Varietas mentes dengan kombinasi perlakuan pupuk dan pestisida kimia
serta PGPR dengan proporsi 25% PGPR dan 75% konvensional menunjukkan
hasil terbaik dengan peningkatan mencapai 157% dibandingkan dengan perlakuan
100% PGPR maupun 100% Konvensional. Varietas Bauji yang merupakan
varietas endemik Nganjuk menunjukkan adanya korelasi positif dengan PGPR
lokal daerah tersebut, nampak pada perlakuan 25% PGPR dan 75% konvensional
v
serta kombinasi antara 75% PGPR dan 25% konvensional. Varietas Philip
menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan antara 25 % PGPR dan 75 % pupuk
memberikan hasil yang paling baik dibandingkan dengan 4 perlakuan yang lain.
Sedangkan pada varietas sumenep kombinasi pemberian pupuk dan pestisida
kimia serta PGPR dengan proporsi 75% PGPR dan 25% konvensional
menunjukkan hasil terbaik dibandingkan dengan 4 perlakuan lainnya. Kombinasi
perlakuan yang dilakukan telah memberikan hasil yang berbeda antar varietas
dalam perlakuan. Kombinasi perlakuan pupuk dengan PGPR memberikan hasil
yang lebih baik dibandingkan dengan pemakaian 100% pupuk dan 100 % PGPR
sehingga mengindikasikan bahwa PGPR baik digunakan sebagai bahan
alternative pengurangan jumlah bahan saprodi yang digunakan.
Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) local dari Desa Betet, Kec.
Ngronggot, Nganjuk mampu menjadi bahan substitusi pupuk dan obat kimia.
Penggunaan PGPR sebagai bahan pengganti pupuk dan pestisida mampu
mengurangi biaya input pertanian berkisar Rp. 6.695.000,- per hektar dengan
catatan harga bawang >Rp 10.000,- serta nilai (NPV) Net Present Value dan IRR
(Internal Rate Return) menunjukkan bahwa proyek usaha tani bawang merah
dengan menggunakan PGPR diterima karena memiliki nilai IRR>1 dengan asumsi
nilai suku bunga bank 18%. Nilai Tukar Petani (NTP) bawang merah dengan
menggunakan PGPR menunjukkan peningkatan sebesar 0,116.
Rekomendasi penelitian terkait hasil yang diperoleh adalah Nilai NTP
bawang merah sangat fluktuatif sehingga perlu menjadi perhatian khusus dinas-
dinas pertanian yang bertugas di sentra produksi bawang merah. Hal ini
dikarenakan eratnya kaitan NTP dengan faktor produksi bawang merah. Oleh
karena itu, dalam menentukan kebijakan terkait perlu dikaji lebih lanjut untuk
mengantisipasi dampak-dampak yang diterima petani bawang merah.