Abstrak
Berdasarkan data BPS (2013) produksi bawang merah provinsi Jawa
Timur 23 % produksi nasional. Disparitas harga antar musim penghujan dan
musim kemarau sangat besar hingga bisa mencapai 100 persen mulai dari harga
Rp 10.000 hingga Rp 100.000,-. Akibatnya, industri bawang merah rugi dan sulit
mengembangkan usaha. Kebutuhan benih bawang merah nasional mencapai
150.000 Ton dari sekitar 100.000 hektar lahan bawang merah, dan 6.000 Ton
diantaranya adalah benih impor (Kompas, 2012). Tingginya kebutuhan benih dan
belum mandirinya petani dalam mencukupi benih menyebabkan harga benih
bawang merah tinggi. Kemandirian petani bawang merah dalam mencukupi
kebutuhan benihnya perlu ditingkatkan guna mengurangi dampak-dampak
negative. Jawa Timur yang termasuk lumbung bawang merah nasional yang
diyakini mempunyai plasma nutfah yang telah beradaptasi baik di Jawa Timur.
Oleh karena itu, Eksplorasi benih bawang merah yang ada di sentra sentra
produksi di Jawa Timur perlu dilakukan guna mencari potensi-potensi benih yang
ada. Adapun tujuan penelitian yaitu mengkaji karakteristik dan pengelompokan
genetik sumber plasma nutfah bawang merah di beberapa daerah sentra produksi
di Jawa Timur. Mengkaji potensi agronomis dan produktifitas bawang merah di
beberapa daerah sentra produksi di Jawa Timur. Menyusun roadmap
pengembangan bibit bawang merah .
Materi genetik ditanam dengan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3
kali pengulangan. Kegiatan yang dilakukan ialah karakterisasi dan pengujian
potensi. Tiap plot berukuran 2m x 2m. Bahan yang digunakan adalah 9 varietas
bawang merah hasil eksplorasi di 3 lokasi (Nganjuk, Malang dan kota Batu).
Penelitian dimulai bulan Maret sampai dengan September 2014. Pengumpulan
data sekunder dari berbagai sumber seperti data pustaka dari Dinas atau instansi
terkait. Karakterisasi dilakukan dengan pengamatan lapang meliputi jumlah
anakan, tingka kerebahan, hasil umbi dan kualitas umbi. Analisis data yang
digunakan ialah Uji F taraf 5% dilakukan untuk mengetahui ada/tidaknya pengaruh
genotype, lokasi dan interaksi genotip x lokasi. Jika terdapat pengaruh nyata,
dilakukan uji lanjut dengan metode beda nyata jujur (BNJ)/Turkey pada taraf 5%.
Kota Batu memiliki keadaan Klimatografi dengan suhu 18 – 240C dan curah
hujan rata-rata 875 – 3000 mm per tahun.. Kab. Malang tepatnya Kec. Ngantang
memiliki struktur tanah gembur lempung berdebu yang cocok digunakan dalam
v
budidaya bawang merah. Kab. Nganjuk tepatnya Kecamatan Ngetos memiliki
suhu 16 – 22
0C curah hujan rata-rata 775 – 3000 mm per tahun. Ketiga lokasi
memiliki jenis tanah alvisol.
Hasil eksplorasi bawang merah yang ditanam petani dan diperdagangkan di
sentra bibit di wilayah Nganjuk dan Batu serta kajian karakteristik berdasarkan
warna umbi, jumlah anakan, bobot umbi, ukuran umbi dan tingkat kerebahan
didapatkan 9 Varietas, yaitu Sumenep, Bima, Bauji, Mentes, Manjung, Pikatan,
Katumi, Philip dan Thailand. Hasil kajian produktivitas menunjukkan wilayah
potensial dengan produktivitas bawang merah tertinggi dicapai oleh Kabupaten
Nganjuk selanjutnya diikuti Malang dan Batu, Sedangkan 4 varitas potensial
diantara 9 varitas yang diuji adalah Mentes, Pikatan, Philip dan Bima.
Berdasarkan pertimbangan data produktivitas, jumlah anakan dan data wilayah
yang yang ada maka dapat disusun road map riset selama 4 tahun dengan
tujuan pengembangan bibit bawang merah unggul dengan produktivitas dan
jumlah umbi tinggi dalam rangka kemandirian benih bawang merah di Jawa Timur.
Road map tersebut adalah (a). Tahun I (2014) : Kajian Karakteristik dan Potensi
Berbagai Jenis Bawang Merah Hasil Koleksi dalam rangka peningkatan kualitas
bibit bawang merah, (b). Tahun II. (2015) : Upaya perakitan varitas unggul baru
bawang merah dengan jumlah anakan dan produktivitas tinggi berbasis plasma
nutfah lokal jawa timur, (c) Tahun III. (2016) : Penerapan Teknologi pembuatan
benih bawang merah yang aplikatif dan d. Tahun IV. (2017) : Pengembangan
Teknologi Penyimpanan Benih Bawang Merah.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka rekomendasi yang diberikan
adalah (1) Kajian Bawang merah pada tahun ini adalah tahap awal dalam rangka
pengembangan benih dan kemandirian petani dalam penyediaan benih bawang
merah. Oleh karena itu Rekomendasi penting untuk mencapai goal dari rangkaian
hasil penelitian kepada Balitbang adalah supaya meneruskan program peneilitian
bawang merah sesuai dengan roadmap pengembangan bawang merah. (2)
Mengingat potensi wilayah yang dipunyai baik konstribusi produksi maupun
produktivitasnya, maka direkomendasikan kepada Pemda Kabupaten Nganjuk c.q.
Dinas pertanian Kabupaten dan Dinas Pertanian Provinsi untuk tetap memberi
kebijakan yang mendukung petani dan pengembangan bawang merah di Nganjuk.