Abstrak
Selain sebagai pakan/ feed, jagung sebagai bahan pangan/ food dituntut
tidak hanya mengandung sumber karbohidrat tetapi menjadi sumber nutrien
esensial. Jagung ungu atau blue corn berpotensi sebagai sumber nutrien yang
mengandung antosianin dan flavonoid serta kadar phenolik mencapai 6 %.
Kandungan ini ditemukan sebagai zat antioksidan yang sangat penting dalam isu
kesehatan. Riset sebelumnya dari hasil kolaborasi Tim peneliti Universitas
Brawijaya dengan Balitbang Jatim tentang eksplorasi genetik jagung endemik
dan rekyasa jagung ketan telah mengarahkan pada peta jalan menuju
pembuatan varietas unggul baru jagung ungu yang enak dan adaptiv di Jawa
Timur. Harapannya adalah petani mendapatkan alternatif dalam meningkatkan
hasil usaha taninya, merangsang tumbuhnya agroindustri dari produk makanan
sehat serta mendukung ikoning Jawa Timur sebagai propinsi Jagung.
Merakit plasma nutfah hasil eksplorasi menjadi varietas unggul baru
masih diperlukan proses perakitan dan pengujian beberapa generasi lagi.
Secara normal proses perakitan jagung unggul memerlukan lebih dari 7-8
generasi atau sekitar 3,5- 4 tahun. Permasalahannya adalah bagaimana dapat
mempersingkat dan mengefektifkan proses pemuliaan/ perakitan varietas
sehingga menjadi lebih singkat paling tidak menjadi 5-6 generasi(2,5 – 3 th)
melalui sistem seleksi efektif. Permasalahan lain adalah kadar antosianin dan
kadar amilopektin jagung endemik hasil eksplorasi masih tergolong rendah yaitu
berturut turut dibawah 0,5 - 0,9 % untuk kadar antosianin dan + 36 % kadar
ketan. Oleh karena itu, penelitian lanjutan untuk meningkatkan kadar amilopektin
dan antosianin dari jagung endemik hasil eksplorasi secara efektif sehingga lebih
cepat terbentuk varietas unggul baru eksotik yang mempunyai kadar amilopektin
dan antosianin tinggi sangat perlu dilakukan. Dengan demikian, tidak hanya
sekedar healthy food saja yang nantinya ingin didapatkan tetapi healthy food
yang disukai konsumen ( the ideal healthy food atau ideotype blue corn).
Tujuan Penelitian ini adalah untuk menentukan model seleksi varietas
jagung eksotik yang efektif untuk mempersingkat waktu pembentukan varietas
jagung ungu sebagai varietas unggul harapan jagung ungu, menemukan pola
turunan karakter warna dan produktivitas vareitas harapan jagung eksotik,
menemukan cara mempersingkat waktu pembentukan kombinasi karakter
varietas harapan jagung eksotik menjadi varietas unggul harapan jagung ungu
dan mengidentifikasi hasil adaptasi varietas unggul harapan jagung ungu
sebagai jagung eksotik pada berbagai lahan pertanian di Jawa Timur. Dengan
demikian luaran yang dikehendaki adalah model seleksi varietas jagung eksotik
yang efektif untuk mempersingkat waktu pembentukan varietas jagung ungu
sebagai varietas unggul harapan jagung ungu, metode aplikasi pola turunan
karakter warna dan produktivitas vareitas harapan jagung eksotik,
mengoptimalkan waktu pembentukan kombinasi karakter varietas harapan
jagung eksotik menjadi varietas unggul harapan jagung ungu, terinformasikan
hasil adaptasi varietas unggul harapan jagung ungu sebagai jagung eksotik pada
berbagai lahan pertanian di Jawa Timur dan sosialisasi paket pedoman teknis
budidaya. Luaran diatas diharapkan nantinya akan membantu proses finishing
perakitan jagung unggul pada periode berikutnya dan Rekomendasi hasil
penelitian untuk instansi terkait.
Penelitian dilaksanakan dikelurahan Dadaprejo, kecamatan Junrejo, Kota
Batu dengan ketinggian ± 610 m dpl dan jenis tanah inseptisol untuk penanaman
induk dan keturunan generasi F1. Selanjutnya, penanaman kedua dengan
menggunakan benih hasil dari F1 dilakukan di Malang, Nganjuk dan Lumajang.
Kegiatan telah dilaksanakan bulan Maret sampai dengan November 2013.
Sebanyak 24 karakter baik karakter vegetative maupun generative diamati
sebagai parameter pengamatan, kemudian dilakukan analisa data setelah diuji t
test
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem seleksi berbasis biji (kernel)
dan tongkol yang dilakukan berdasarkan seleksi warna dari populasi warna biji
yang beragam cukup efektif menjadi model untuk mendapatkan galur tetua
maupun kombinasinya yang cocok untuk meningkatkan kandungan antosianin
dan amilopektin. Waktu normal pembentukan varietas hibrida ialah antara 4-5
tahun, tetapi dengan menggunakan sistem seleksi ini pembentukan varietas
hibrida jagung dapat dilakukan selama 3-3,5 tahun, atau 1-1,5 tahun lebih cepat
dibandingkan dengan sistem seleksi lainnya. Hasil lain menunjukkan terjadi
penurunan kandungan antosianin pada populasi cross hibrida jagung ungu dan
penurunan kandungan amilopektin pada populasi cross hibrida jagung ketan
(pada keturunan pertama). Akan tetapi, kandungan tersebut meningkat kembali
pada generasi kedua. Pola ini merupakan pola segregasi/ pemisahan gen
pengontrol pembentukan antosianin dan ketan sehingga dapat digunakan
sebagai strategi pembuatan galur tetua yang lebih cepat. Oleh karena itu, untuk
mempercepat pembentukan tetua dengan kandungan antosianin dan amilopektin
yang lebih tinggi secara cepat dapat dilakukan kombinasi silang balik pada
tanaman terseleksi. Pada hasil penelitian ini karakter warna ungu lebih dominan
dibandingkan dengan karakter warna putih.
Secara umum hasil perkawinan cross hibrida menunjukkan peningkatan
kadar antosianin yang lebih tinggi pada jagung manis dan jagung ketan
dibandingkan pada jagung ungu endemik maupun introduksi. Seleksi yang
dilakukan dari generasi pertama (S1) menyebabkan peningkatan kadar ketan
dan antosianin secara signifikan. Oleh karena itu, percepatan pembentukan
varietas unggul harapan jagung eksotik dapat dilakukan seleksi berdasarkan
warna kernel. Hasil analisis pertumbuhan dan produktivitas varietas unggul
harapan jagung ungu di tiga lokasi uji coba tidak menunjukkan perbedaan yang
signifikan atau mempunyai tingkat adaptabilitas yang baik terhadap lingkungan
yang berbeda. Cross hibrida jagung ungu endemik dan ungu introduksi (ExUI)
memiliki nilai kandungan anthosianin lebih tinggi tetapi mempunyai kandungan
amilopektin lebih rendah dibandingkan dengan cross hibrida Ungu introduksi
dengan ketan (UIxK). Jagung (ExUI) juga mempunyai kadar gula (TSS) yang
lebih rendah dibandingkan dengan jagung (MxEU) kecuali jika di tanam di
Nganjuk.
Kajian jagung eksotik belum mencapai hasil akhir namun hasil penelitian
dapat memberikan harapan yang tinggi terhadap keberhasilan dan kesesuaian
roadmap pembentukan varitas unggul jagung eksotik yang enak. Maka dari hasil
penelitian ini, tindak lanjut yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :
Hasil penelitian “Pembentukan Varietas Harapan Jagung Eksotik dengan
Kadar Antosianin dan Amilopektin Tinggi” di Malang, Nganjuk dan Lumajang
telah memasuki tahap akhir dan menunjukkan representasi hasil yang sesuai
harapan. Selanjutnya kepada Dinas Pertanian dan Badan Perencanaan Daerah
(BAPEDA) di tiga wilayah tersebut diharapkan untuk tetap memfasilitasi
penelitian selanjutnya pada tahap akhir dan memperkenalkan hasil penelitian
yang telah dicapai ini kepada petani setempat.
Tahap penelitian selanjutnya adalah mengkaji produktifitas dan keragaan
jagung ungu dalam rangka pra pelepasan varietas, oleh karena itu Badan
Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur (BALITBANG JATIM)
diharapkan untuk tetap melanjutkan dan memfasilitasi penelitian masalah
tersebut pada tahun anggaran 2014 hingga terbentuk varitas jagung unggul baru
yang siap di lepas dan digunakan untuk mensejahterakan masyarakat.