Abstrak
Tuberkulosis merupakan penyebab kematian urutan ketiga di Indonesia setelah
penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran nafas, serta nomor satu dari golongan
penyakit infeksi (Depkes RI, 2007). Berdasarkan laporan WHO dalam Global Report 2009,
pada tahun 2008 Indonesia berada pada peringkat 5 dunia penderita TB terbanyak setelah
India, China, Afrika Selatan dan Nigeria. Ikan gabus (Channa striata) merupakan salah satu
sumber asam lemak esensial dan asam amino (protein) esensial yang cukup lengkap dan
murah sehingga menarik sekali untuk dikaji pengaruhnya terhadap pasien TB. Ekstrak basah
C. striata dilaporkan mengandung 16 macam asam amino yang 8 di antaranya merupakan
asam amino esensial, yaitu arginin, treonin, valin, metionin, isoleusin, leusin, fenilalanin, dan
lisin (Zakaria et al., 2006). Dari delapan macam asam lemak yang ditemukan dalam ekstrak
basah C. striata dua di antaranya merupakan asam lemak esensial kelompok omega-6, yakni
asam linoleat (C18:2) dan asam arakidonat (C20:4) (Zakaria et al., 2006).
Tujuan Penelitian “Kajian Dampak Pemberian Suplemen Ikan Gabus (Channa Striata)
Dalam Mempercepat Pengobatan Penyakit TB Paru” adalah untuk: Pertama, mengetahui
karakteristik responden penelitian. Kedua, mengetahui kondisi lingkungan fisik rumah dari
responden yang ada di Kabupaten Jember dan Kabupaten Situbondo, ketiga menganalisis
karakteristik Indeks Massa Tubuh pasien setelah pemberian suplemen Ikan Gabus (Channa
striata). Keempat, mengetahui efek samping dan manfaat yang ditimbulkan dari suplemen
ikan gabus terhadap responden. Kelima, mengetahui dampak Pemberian Suplemen Ikan
Gabus (Channa striata) Dalam Mempercepat Pengobatan Penyakit TB Paru.
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni (true experimental), dimana
semua variabel yang berpengaruh selain perlakukan dapat dikendalikan. Dipilih jenis penelitian ini
juga karena dapat menghasilkan data dengan validitas yang tinggi dan perlakuan dapat diatur secara
random oleh peneliti, dimana penderita TB paru akan akan diberi perlakuan pemberian ikan gabus,
kemudian dilihat percepatan penyembuhannya. Rancangan penelitian memakai desain Randomized
pre test - post test only control group designt. Penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas di
Kabupaten Jember (terdapat 49 Puskesmas) dan Kab. Situbondo (17 Puskesmas), sedangkan untuk
tes SPS dilakukan di Puskesmas yang bersangkutan dan di RS Paru Jember.
Hasil penelitian Kajian dampak pemberian suplemen ikan gabus (Channa striata) dalam
mempercepat pengobatan adalah dapat disimpulkan bahwa: Pertama, karakteristik
iiiresponden berdasarkan umur, mayoritas responden berada pada usia > 50 tahun dengan
presentase 37 %, lebih besar dibandingkan dengan responden berusia 40 – 49 tahun dengan
presentase 22,5 %, usia 20 – 29 tahun dengan presentase 18,5 %, usia 30 – 39 tahun dengan
presentase 14,5 %, dan usia < 20 tahun dengan presentase 7,5 %. Kedua, karakteristik
responden berdasarkan jenis kelamin, mayoritas responden berjenis kelamin pria dengan
presentase 51,5 %, lebih besar dibandingkan dengan responden berjenis kelamin wanita
dengan presentase 48,5 %. Ketiga, karakteristik sosial dan ekonomi responden berdasarkan
pendidikan terakhir, mayoritas responden memiliki dua anggota keluarga berpendidikan SD
dan sederajat dengan presentase 37,5 %, lebih besar dibandingkan dengan responden yang
SLTA dan sederajat dengan presentase 25 %, SLTP dan sederajat serta tidak sekolah dengan
presentase sama yaitu 18%.
Keempat, Untuk dampak pemberian suplemen, menunjukkan bahwa pada kelompok
perlakuan, persentase responden yang tidak ada efek alergi (gatal) (24%) lebih besar
dibandingkan dengan persentase ada alergi (gatal) ringan (16 %), ada alergi (gatal) sedang
(6%), dan ada alergi (gatal) berat (1%). Sedangkan pada kelompok kontrol, presentase yang
tidak ada efek alergi (gatal) (28%) lebih besar dibandingkan dengan persentase ada alergi
(gatal) ringan (16%), DO (5%), ada alergi (gatal) sedang (3%), dan ada alergi (gatal) berat
(1%).
Kelima, untuk efek demam, pada kelompok perlakuan, persentase responden yang
tidak ada efek demam (41%) lebih besar dibandingkan dengan persentase ada demam
ringan (5 %), dan ada demam sedang (1%). Sedangkan pada kelompok kontrol, presentase
yang tidak ada efek demam (34 %) lebih besar dibandingkan dengan persentase ada demam
ringan (10%), DO (5%), ada demam sedang (2%), dan ada demam berat (2%). Untuk jantung
berdebar, menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan, persentase responden yang tidak
ada efek jantung berdebar (34 %) lebih besar dibandingkan dengan persentase ada jantung
berdebar ringan (10%) dan ada jantung berdebar sedang (3%). Sedangkan pada kelompok
kontrol, presentase yang tidak ada efek jantung berdebar (36%) lebih besar dibandingkan
dengan persentase ada jantung berdebar ringan (7%), DO (5%), ada jantung berdebar
sedang (3 %), dan ada jantung berdebar berat (2%)
Keenam. Dampak positif dari pemberian suplemen adalah menunjukkan bahwa pada
kelompok perlakuan, persentase responden yang ada manfaat badan segar kecil (24%) lebih
besar dibandingkan dengan persentase ada manfaat badan segar sedang (14%), tidak ada
ivmanfaat badan segar (7%), dan ada manfaat badan segar besar (2%). Sedangkan pada
kelompok kontrol, presentase ada manfaat badan segar ringan (20%) lebih besar
dibandingkan dengan persentase ada manfaat badan segar sedang (12 %) dan tidak ada
manfaat badan segar (12%), DO (5 %), dan ada manfaat badan segar besar (4%).
Ketujuh, pernafasan menjadi legah, menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan,
persentase responden yang ada manfaat pernafasan legah/enak kecil (21%) lebih besar
dibandingkan dengan persentase ada manfaat pernafasan legah/enak sedang (13%), tidak
ada manfaat pernafasan legah/enak (12%), dan ada manfaat pernafasan legah/enak besar
(1%). Sedangkan pada kelompok kontrol, ada manfaat pernafasan legah/enak kecil (21%)
lebih besar dibandingkan dengan persentase ada manfaat pernafasan legah/enak sedang
(12%), tidak ada manfaat pernafasan legah/enak (9 %), ada manfaat pernafasan legah/enak
besar (6%) , dan DO (5%).
Kedelapan, nafsuh makan meningkat, menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan,
persentase responden yang ada manfaat nafsu makan meningkat kecil (21%) lebih besar
dibandingkan dengan persentase ada manfaat nafsu makan meningkat sedang (14%), ada
manfaat nafsu makan meningkat besar (7%), dan tidak ada manfaat nafsu makan meningkat
(5%). Sedangkan pada kelompok kontrol, presentase ada manfaat nafsu makan meningkat
sedang (19%), lebih besar dibandingkan dengan persentase ada manfaat nafsu makan
meningkat kecil (15%), ada manfaat nafsu makan meningkat besar (7%), tidak ada manfaat
nafsu makan meningkat (7%) dan dan DO (5%).
Kesembilan, rasa nyeri berkurang, menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan,
persentase responden yang tidak ada manfaat rasa nyeri dada berkurang (26%) lebih besar
dibandingkan dengan persentase ada manfaat rasa nyeri dada berkurang kecil (11%), ada
manfaat rasa nyeri dada berkurang sedang (6%), dan ada manfaat rasa nyeri dada berkurang
besar (4%). Sedangkan pada kelompok kontrol, presentase yang tidak ada manfaat rasa
nyeri dada berkurang (26 %) lebih besar dibandingkan dengan persentase ada manfaat rasa
nyeri dada berkurang ringan (11 %), ada manfaat rasa nyeri dada berkurang besar (6%), ada
manfaat rasa nyeri dada berkurang sedang (5%), dan DO (5%).
Kesepuluh, Indeks Massa Tubuh (IMT) antara kontrol dan perlakuan menunjukkan
peningkatan IMT antara kontrol dengan perlakuan. Pada kelompok perlakuan, rerata untuk
IMT minggu ke-0 adalah 17,52; rerata IMT minggu ke-1 17,73; IMT minggu ke-2 17,94; IMT
minggu ke-3 18,02 dan IMT minggu ke-4 18,21. Sedangkan untuk kontrol, rerata untuk IMT
vminggu ke-0 adalah 17,26, rerata IMT minggu ke-1 17,51, IMT minggu ke-2 17,73, IMT
minggu ketiga 17,84 dan IMT minggu keempat 18,01. Hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa
setelah mengkonsumsi suplemen ikan gabus penderita Tb paru, pada minggu pertama sampai
minggu keempat ada perbedaan dimana IMT responden pengobatan DOTS plus suplemen ikan
gabus lebih tinggi dibanding responden kontrol DOTS plus plasebo.
Dan kesebelas adalah Pemberian suplemen ikan gabus memberikan percepatan
penyembuhan terhadap penyakit TB dari pada yang tidak memakai suplemen ikan gabus.
Berdasarkan uji Chi Square antara pemberian suplemen ikan gabus dengan percepatan konversi
pada minggu ke-2 sewaktu dan pagi menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan, persentase
responden yang Negatif (91,3%) lebih besar dibandingkan positif 1 (8,7%), positif <1 (scenti) (0%),
dan positif 3 (1%). Sedangkan pada kelompok kontrol, persentase yang negatif (72,2%) lebih besar
dibandingkan positif 1 (20,6%), positif 2 (3,1%), positif 3 (2,1%), dan positif <1 (2%). Untuk
signifikansi, pada minggu ke-2 diperoleh p= 0, 002 untuk sputum pagi dan p= 0,001 untuk sputum
sewaktu; pada minggu ke-3 diperoleh p= 0, 006 untuk sputum pagi dan p= 0,011 untuk sputum
sewaktu dan pada minggu ke-4 diperoleh p= 0, 019 untuk sputum pagi dan p= 0,013 untuk sputum
sewaktu dengan = 0,05; menunjukkan p < , maka Ho ditolak, berarti ada perbedaan yang
bermakna antara pemberian suplemen pada minggu keempat BTA Pagi Ke-4 dengan percepatan
konversi penyembuhan TB Paru yang dimulai pada minggu ke-2.
Percepatan kesembuhan (konversi dan peningkatan indeks massa tubuh menjadi normal)
akan menjaga/meningkatkan produktivitas penderita, yang lebih penting konversi berarti berhenti
menularkan lebih dini (dapat mencegah timbulnya kasus baru). Sehingga dari hasil penelitian
Kajian dampak pemberian suplemen ikan gabus (Channa striata) dalam mempercepat
pengobatan dapat rekomendasikan bahwa:
1.
Bisa menjadikan sebagai acuan perubahan pengobatan :
a. DOTS Plus, scheme terapi sama dengan DOTS saat ini, hanya ditambahkan suplemen
Ikan Gabus (Channa striata).
b. Neo DOTS, fase intensif 1 bulan dengan sisipan 1 bulan bila tidak terjadi konversi
ditambah 4 bulan intermittent sehingga terapi dipercepat 1 bulan. Percepatan ini
mengandung keuntungan menurunnya efek samping terapi dan menurunnya
kejadian drop-out.
2.
Peluang emas bagi Jawa Timur untuk mempercepat penurunan penderita TB Paru dan
meningkatkan ekonomi pedesaan (produksi kapsul) tehnologi penyediaan kapsul dan
pengawetan asli Jember/Jawa Timur (siap dipatenkan).